selamat datang teman-teman....
kunjungi juga www.terasretno.multiply.com

Kalau mau beli buku-bukuku langsung, boleh banget lho.... Kontak aja ke emailku ya: retno_teera@yahoo.com.

Kamis, 16 Juli 2009

NGGAK SENGAJA JADI DOSEN # 4

Karena gue udah dinyatakan nggak lolos psikotes untuk posisi research librarian yang gue lamar, berarti gue nggak perlu lama-lama lagi di Jakarta. Ngapain?
Panas! Gerah!

Jadi, beberapa jam setelah menerima hasil psikotes itu, gue langsung bersiap-siap untuk pulang ke Bandung (di Jakarta gue nginep di rumah kakak gue di kawasan Kalibata, nggak gitu jauh dari hipermarket GORO yang dijarah dan dibakar massa pas kerusuhan Mei 1998. Dan nggak jauh juga dari Taman Makam Pahlawan. Eh aneh deh, kalau hari minggu kok banyak yang berolahraga dan jalan-jalan di kawasan TMP ini, ya? Memangnya Jakarta udah bener-bener kehabisan lahan terbuka buat rekreasi murah meriah, gitu? ).

Barang-barang udah gue masukin lagi ke dalam tas. Tentu aja, barang-barang milik gue sendiri, bukan barang-barang milik kakak gue apalagi punya tetangga gue.
Gue memang belum dapat pekerjaan, tapi gue bukan kleptomania.
Enak aja!

Rencananya gue akan pulang besok paginya dengan naik bus dari Terminal Kampung Rambutan.
Sisa waktu gue di Jakarta gue pakai untuk malas-malasan (padahal tiap hari juga udah malas-malasan….!).
Sore-sore…..
Kriiing……
Kriing…..

Kebetulan gue yang terima.
“Halo….”
“Selamat sore. Bisa bicara dengan Ibu Triani Retno?”

Waduuuh….! Gue dipanggil Ibu, neeeh….? Please deh, ah….! Siapa ya yang tega-teganya memanggil gue dengan sebutan ‘Ibu’. Gue kan jelas-jelas belum ibu-ibu…. Masa sih cewek seimut-imut gue udah dikategorikan sebagai ibu-ibu?
Tapi ya….masih bagus juga. Setidaknya ibu-ibu yang menelepon itu tidak memanggil gue dengan sebutan ‘Bapak’. (eh, emangnya yang nelpon udah ibu-ibu, gituuu….??).
“Saya sendiri.”
“Oh, dengan Ibu Triani Retno sendiri?”
“Ya.”
Nggak….! Gue nggak perlu melirik ke kiri dan ke kanan untuk memastikan apakah gue benar-benar sendiri atau ada orang lain di dekat gue. Maksud ibu penelepon itu pasti bukan begitu.

Hah!
Betapa o’on nya gue kalau sampai melirik-lirik apalagi menoleh kian kemari begitu.
Gue juga nggak perlu bilang kan kalo sebenarnya gue selalu ditemani dua malaikat yang siap mencatat perbuatan baik dan perbuatan jahat gue?
Hm….rasanya seperti dalam film telenovela saja, mendengar nama gue bolak-balik disebut secara lengkap begitu. ‘Darimana saja kau Maria Mercedez…..’ Biasa aja nggak bisa ya, Bu? Seperti teman-teman saya yang kalau memanggil cukup dengan , “Nooo…...!”
Singkat dan cukup informatif. Kepanjangannya boleh ditambahkan sendiri: No thanks atau no way.

Kembali ke masalah telepon tadi.
Ternyata telepon di sore hari itu datang dari sebuah PTS alias perguruan tinggi swasta di kawasan Salemba, Jakarta Pusat.
Hm…hm….
Ah ya!

Gue pernah memasukkan lamaran ke sana. Iklan job vacancy nya gue lihat di sebuah koran nasional terbitan Jakarta, kira-kira satu atau satu setengah bulan yang lalu.
Ah…! Gue dapat panggilan lagi. Pastinya. Kalo enggak ngapain juga ibu-ibu itu nelpon gue? Masa cuma kepengen ngobrol doang? Nggak mungkin banget, kan?

“Ibu kami jadwalkan untuk mengikuti tes dua hari lagi.” Suara empuk ibu-ibu itu terdengar lagi. Begitu empuknya sampai-sampai mengalahkan marshmallow.

Ah.
Betul kan kata gue?
Gue dapat panggilan lagi. Gue bener-bener jadi cewek panggilan. Maksudnya dipanggil untuk tes kerja, bukan dipanggil untuk yang lain-lain. Memangnya gue cewek kece apaan?

“Kalau saya boleh tahu, tes apa ya, Bu?” tanya gue dengan suara seformal mungkin. Begitu formalnya sampai gue kagum sendiri karena bisa bersuara seformal itu dan tidak malah bertanya, “Aaah….beneran nih? Sumpe lo? Tes apaan? Kira-kira bakal susah nggak? Kasih bocorannya dong…. Kalo mau ujian aja ada kisi-kisinya….”

Ya…ya…
Untuk yang sedang mencari kerja memang sebaiknya melatih cara berbicara yang resmi, formal, dan terdengar profesional di telepon. Jangan pecicilan atau jejeritan. Bisa-bisa panggilan tes untuk kita langsung dibatalkan dengan alasan, ‘Maaf, salah sambung. Kami sedang mencari calon karyawan, bukan mencari mencari pemeran Mak Lampir….”
Eh, emangnya Mak Lampir suka pecicilan dan jejeritan, gitu? Ah, pokoknya gitu deh.

“Tes mengajar.”
Hah?
Tes mengajar?
Memangnya waktu itu gue melamar jadi apa ya? Apa gue melamar jadi dosen, ya? Sepertinya iya, deh. Kerjaan utama dosen kan mengajar, jadi harus dites ngajar dulu.
Hm….. beneran nih ya…gue ngelamar jadi dosen?

Samar-samar, potongan iklan job vacancy di koran yang gue temukan di Perpustakaan Museum Asia Afrika itu terbayang lagi di mata gue.
Dosen. Fresh graduate. Fakultas Ekonomi dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Bersedia disekolahkan lagi dengan ikatan dinas. Bla…bla…bla…. dan seterusnya….
Nama fakultas gue memang nggak disebut, tapi gue tau pasti kalo di banyak perguruan tinggi –negeri dan swasta-, ilmu komunikasi masih berupa jurusan yang berada di bawah FISIP alias Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Jadi gue merasa masih nyambung-nyambung aja.
Gue fresh graduate. Dan gue nggak menolak kalau disekolahkan lagi, apalagi kalo gratis dan tetap dapat gaji. Haaa….! Siapa sih yang nggak mau? Sekolah gratis, dibayar pula.
Jadi betul.
Gue melamar menjadi dosen.

“Mengajar materi apa ya, Bu?” tanya gue berusaha agar tidak terdengar bego.
Lhaaa….? Kok malah nanya? Dulunya waktu menulis lamaran, melamar jadi dosen apa?

“Ibu dari Fikom, kan? Kami minta Ibu untuk presentasi mata kuliah Ilmu Komunikasi. Materinya terserah Ibu.”
Nah!
Rasain.

“Bagaimana, Bu? Bisa?”
“Hm. Oke.”
“Kalau begitu hari Rabu jam satu siang kami tunggu di kampus.”
Rabu.
Lusa?
“Ya, Bu. Terima kasih.”
“Kembali.”

Selesailah pembicaraan telepon sore itu.
Tadi pagi gue dapat surat yang menyatakan gue tidak lolos tes. Sorenya gue dapat panggilan dari tempat lain.
Untung gue belum balik ke Bandung.
Untung?
Hei! Tunggu dulu!
Gue harus presentasi. Tes mengajar. Berarti gue harus segera menyiapkan materi yang akan gue bawakan.
Apa?
Buku-buku dan diktat kuliah gue kan ada di Bandung….. Ya….nggak gue bawa-bawa ke Jakarta. Buat apa? Gue kan ke Jakarta buat tes kerja, bukan buat kuliah.
Sekarang bagaimana?
Untungnya (untung gue orang Indonesia asli yang mengenal kata ‘untung’), gue bawa segepok kertas catatan kuliah gue dulu. Nggak tau juga sih kenapa waktu itu gue bawa-bawa. Mungkin kebiasaan, mungkin juga karena guenya aja yang lagi kurang kerjaan….
Catatan-catatan kuliah itu jadi bahan utama gue untuk menyegarkan ingatan gue pada materi-materi kuliah dulu. Ah….! Masih seger kok. Kalau masih belum cukup seger, gue tinggal ke kamar mandi dan….byuuur….!
Kembali segar.

Ilmu Komunikasi.
Jurusan gue memang Cicaheum-Ledeng eh Ilmu Perpustakaan. Tapi di kampus gue, jurusan ilmu perpustakaan ini menginduk pada Fakultas Ilmu Komunikasi alias Fikom. Beda sama kampus lain yang juga punya jurusan ajaib ini 2). Ada yang masuk ke FISIP, Fakultas Sastra, atau malah ke Fakultas Teknik.
Jadi, sah-sah aja kan kalo gue memasukkan lamaran untuk menjadi dosen ilmu komunikasi? Secara gue memang lulusan dari Fakultas Ilmu Komunikasi, gitu lho.

Ah.
Gampang, lah.
Gue pasti bisa.
Jadi, gue pun mulai bersiap-siap.

0 komentar: