Jumat, 30 November 2012

Resensi "DEWEY, KUCING PERPUSTAKAAN"








Pengarang: Vicky Myron

Penerjemah: Istiani Prayuni. Penerbit: Serambi Ilmu Semesta, 2009. Tebal: 400 halaman.

Pertama kali membaca judul buku ini di sebuah posting di milis, aku langsung penasaran.Kata yang membuatku penasaran itu ada pada judul: Dewey. Ketika kemudian melihat cover buku ini melalui Google, aku langsung jatuh cinta pada Dewey.

Semua orang yang berlatar pendidikan ilmu perpustakaan, pasti sangat akrab dengan Dewey. Pengklasifikasian yang paling umum digunakan di perpustakaan di dunia adalah sistem Dewey Decimal Classification (DDC).

Yang pertama terlintas di benakku ketika melihat judl 'DEWEY' adalah perpustakaan.

Setahuku, tak banyak buku yang berlatar belakang perpustakaan atau menjadikan seorang pustakawan sebagai tokoh utama (lebih-lebih buku terbitan dalam negeri).

Kisah berawal ketika suatu pagi Vicky Myron (pustakawan di Perpustakaan Umum Spencer, USA) menemukan seekor kucing berwarna jingga di kotak pengembalian buku. Kucing itu diberi nama Dewey Readmore Books. Kata 'Dewey' tentu saja mengambil dari kata DDC. Pemberian nama ini pun tak sembarangan, karena melibatkan pengguna perpustakaan.

Dewey kemudian tinggal di Perpustakaan Umum Spencer. Tak hanya tinggal, Dewey bahkan menjadi maskot dan kesayangan semua orang. Keberadaan Dewey di perpustakaan itu secara menakjubkan membuat banyak orang datang ke perpustakaan. Tak hanya dari kota Spencer, tapi juga dari negara bagian lain di USA hingga dari Tokyo, Jepang. Dewey muncul di acara televisi di berbagai negara. Dewey juga muncul di berbagai majalah dan surat kabar di berbagai negara. Dewey menjadi bagian dari perkembangan kota Spencer. Pada masanya, Dewey bahkan lebih terkenal daripada kota Spencer itu sendiri.

Ratusan halaman dalam buku ini bertutur mengenai interaksi manusia-kucing; perpustakaan; dan kota Spencer plus Iowa.

Membaca buku ini membuat kita lebih mengenal kucing dan perpustakaan. Bagiku ini menarik. Bukan rahasia lagi, jika di Indonesia ini masih banyak sekali orang yang tak mengerti tentang perpustakaan dan pustakawan. Apa saja sih yang dikerjakan pustakawan? Cuma ngelap buku, kan?

"Seorang pustakawan yang baik selalu menggali lebih dalam. Apa nilai-nilai yang dianut masyarakatmu? Dari mana semua itu berasal? Bagaimana dan mengapa nilai-nilai itu berubah?" (halaman 152).

*
Buku ini sampai ke hati dan otakku. Yang sampai ke otakku, tentu tentang dunia perpustakaan, pustakawan, dan kehidupan kota kecil di USA itu.
Yang sampai di hati?

Pecinta kucing atau bukan, coba simak ini, "Selama dua tahun, selagi aku berkutat dengan kekhawatiran mengenai keputusanku, meratapi kehilangan yang kualami, dan merasakan kesakitan, dewey menyentuhku setiap hari. Dia duduk di pangkuanku. Dia menyender di pelukanku. Dan setelah semuanya berlalu, sewaktu akhirnya aku kembali ke kondisi yang hampir seperti semula, dia kembali duduk di sampingku. Tidak ada yang memahami penderitaan yang kualami selama dua tahun tersebut; tidak seorang pun mengerti, kecuali Dewey." (halaman 283).

Hal itu terjadi ketika Vicki harus menjalani masektomi (operasi pengangkatan kedua payudaranya yang terserang kanker).

(Terima kasih untuk Serambi yang memilih ceritaku "Beldo Sang Pengawal" sebagai salah satu pemenang dalam lomba menulis Dewey, hingga aku bisa mendapatkan buku cantik ini. Terima kasih juga untuk Rini yang rajin mengingatkan untuk meresensi buku-buku, terlebih yang didapat secara gratis....)

catetan: pindahan dari Multiply, nih.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar